Ditulis pada 19 April 2006, telah disunting agar sesuai konteks kekinian.
Jika ditanya, lebih baik mana antara menjadi seorang pengemis ataukah seorang pemulung, maka saya yakin bahwa kebanyakan diantara kita akan memilih si pemulung. Dewasa ini barangkali mencari pekerjaan adalah suatu hal yang dirasa cukup sulit. Sampai-sampai pengemis pun adalah sebuah pekerjaan. Dan itulah yang saya lihat di kampus kami di Universitas Brawijaya Malang. Bahkan pernah iseng saya hitung, eh ternyata setidaknya ada 5 pengemis tetap. Dalam artian mereka yang setiap hari hampir bisa dipastikan nge-pos di fakultas saya. Saya hafal betul wajah-wajah mereka karena toh mereka memang itu-itu saja. Saya jadi berpikir, apakah jangan-jangan pengemis itu sebagai sebuah profesi. Mereka belum tentu miskin, karena pernah teman saya memergoki salah satu dari mereka menukarkan uang lima puluh ribuan. Nah loh..!! Jadi miris pula, apakah karena sulitnya mencari pekerjaan, dan melihat bahwa mengemis adalah cara mudah mendapatkan uang, maka jadilah mereka menjadi seorang yang menjual rasa malu mereka hanya untuk sekedar mendapat uang. Saya jadi teringat akan sabda Rasulullah yang mengatakan bahwa barang siapa meminta-minta untuk mengumpulkan kekayaan maka hartanya tadi akan menjadi bara api dinerakanya kelak. Naudzubillah. Semoga mereka tidak seperti itu.
Lain lagi ceritanya dengan seorang pengamen, posisi mereka masih sedikit lebih terhormat daripada pengemis. Tapi kalau pengamen otomatis lihat-lihat dulu, bagaimana cara dia mengamen.
“Pengamen dulu, dibayar karena suaranya..”, ujar temanku di sebuah perempatan lampu merah.
“Kalau sekarang..??” tanyaku antusias.
“Kalau sekarang, pengamen dibayar untuk pergi.”, jawabnya disambut gelak tawa kami.
Ya, barangkali saya yakin tidak semuanya. Sebagaimana memang saya lihat dalam perjalanan bus Ponorogo-Malang. Ada banyak pengamen, dan banyak kok yang bagus. Barangkali hanya beberapa yang memang saya lihat, kalau boleh dibilang, “mengemis dengan cara halus”. Dengan modal seadanya, ecek-ecek, atau tepuk tangan, dah gitu suaranya nggak merdu lagi. Mereka yang ini cenderung bukan menghibur kita, tapi lebih pada menyentuh sisi kemanusiaan kita.
Barangkali itu pula yang menjadi pertimbangan teman saya di Ilmu Komputer Unibraw, sebut saja si A, untuk tidak memberi pada para pengemis tetap ini. Padahal yang saya tahu dia berasal dari keluarga kaya. Bahkan sehari-hari dia sering membawa laptop ataupun mobil ke kampusnya. Namun ketika kami berkumpul dan ada seorang pengemis, tak pernah sekalipun saya lihat dia memberi. Saya tidak terlalu mempermasalahkan karena memang hal itu tampaknya wajar di kampus kami. Terlebih si A ini adalah salah seorang yang sering mengkompori teman-temannya untuk mulai bikin usaha sendiri. Istilahnya bisnis kecil-kecilan.
Suatu waktu seusai perjalanan kembali ke kampus dari makan siang, “Menurutmu orang itu orang yang kerja apa pengemis..??”, tanya salah temanku, si A tadi sambil melambatkan laju motornya. Kulihat sepintas orang yang dimaksud temanku tadi, seorang wanita tua, berjalan terbungkuk dengan sebuah gendongan karung besar di punggungnya. Melihat karung itu, aku yakin ia bukan seorang pengemis, ia pasti seorang pekerja.
”Sepertinya ya, lihat saja gendongannya”, jawabku singkat. Sempat kupikir temanku ini hanya bertanya. Namun tak urung aku berupah pikiran ketika ia menghentikan laju motornya. Tak cukup disitu, dia pun mengeluarkan selembar lima ribuan dari dompetnya (jumlah yang cukup berarti untuk diberikan di pinggir jalan pada masa itu), ia memutar balik laju motornya dan mengejar nenek tua tadi. Aku yang dibonceng pun mau tak mau juga harus mengikuti. Dari agak jauh aku hanya tersenyum ketika temanku yang dikenal konyol dikelasnya ini mengejar dan memberikan uang kertas di tangannya. Kulihat nenek tua tadi sempat terlihat kebingungan namun tak urung menerimanya juga. Segera setelah menyerahkan uang itu, setengah berlari temanku tadi pun kembali. Saat dia kembali ia berkata, ”Saya itu lebih menghargai ma orang yang kerja, daripada yang minta-minta.”, ujarnya sambil menstarter sepeda motornya.
”Yup, setuju, jarang loh orangyang seperti itu” jawabku
Ya, dijaman sulit seperti ini, perjuangan seorang nenek tua untuk mau mencari nafkah adalah sungguh patut diacungi jempol. Tidak menggantungkan pada orang lain, apalagi dengan meminta-minta di pinggir jalan. Kontan aku juga teringat pada seorang kakek tua di gerbang belakang kampus. Terkadang ketika aku lewat disana, kulihat bapak renta itu sedang melayani orang yang membeli gado-gado. Pernah aku membeli dari bapak ini, dan aku sadar bahwa pendengaran bapak ini ternyata jauh berkurang. Tak sampai disitu, jalannya yang tertatih-tatih di usianya yang kutaksir 70-an, sungguh membuatku semakin kasihan. Apakah kakek ini tidak punya anak atau cucu yang merawatnya..??? tanyaku dalam hati.
Sungguh sebenarnya, barangkali para pengemis di kampusku seharusnya malu.Mereka masih banyak yang jauh lebih muda dari nenek tadi, ataupun kakek penjual gado-gado, para pengemis itu bahkan masih banyak yang jauh lebih kuat. Baik kakek gado-gado ataupun nenek tadi sebenarnya lebih berhak untuk meminta-minta, namun mereka memilih untuk tidak melakukannya. Bagaimanapun juga, sama seperti halnya dengan temanku tadi, dan mungkin kita semua, bahwa selayaknya kita mau menghargai lebih pada orang yang mau berusaha. Bukannya saya mengajak Anda untuk tidak memberi sesuatu pada pengemis, tidak seperti itu. Setidaknya berilah mereka. Dan berprasangkalah yang baik bahwa mereka memang tidak mampu. Yah, itung-itung sedekah. Atau bahkan jika bisa, marilah coba memberi mereka pekerjaan, setidaknya mereka pun mampu bekerja, dan tentu saja, kita akan menghargai lebih pada mereka.
”Anak kecil yang ecek-ecek di jalan itu ya, Aku sungguh lebih senang kalau mereka jualan koran”. Ujar Adam, temanku lainnya di ilkomp. ”Mungkin hasilnya nggak seberapa tapi, itu bener jauh lebih baik daripada mengamen.” Ya, menghargai sebuah karya memang bukan ditentukan pada hasilnya, namun lebih pada bagaimana usaha seseorang tadi untuk meraih hasil yang diinginkan. Kita menghargai usaha, dan bukan hanya hasil…..