Untuk bab ini, tidak ditemukan informasi tanggal penulisan asli di akhir naskah.
Meski laki-laki dan nama saya Tegar, namun tak urung, di masa kecil saya, hati ini miris setiap melihat ayam, sapi atau kambing yang disembelih. Ke-tegaran diri ini seolah-olah terkuras setiap melihat ayam yang disembelih oleh Ayah saya. Hampir-hampir diri ini nggak tega setiap disuruh Ayah memegangi ayam tersebut, untuk kemudian disembelih oleh beliau. Apalagi ketika melihat ayam tersebut ditinggal sambil mengelepar-menggelepar. Wuih… tersiksa sekali kelihatannya. Namun meskipun begitu, tak urung, senang juga memakan ayam tersebut ketika sudah dihidangkan di meja oleh ibu tercinta. Jika sudah dihadapan mata, bayangan kematian si-ayam tak urung akhirnya hilang juga terganti oleh rasa lapar. Jangankan hanya ayam, kambing ataupun sapi di saat hari raya, bahkan untuk binatang yang terkadang disebut menjijikkan seperti seekor ulat, kecoa, atau orong-orong sekalipun diri ini untuk membunuh rasanya nggak tega. Jika mereka ada, biasanya saya hanya menyapunya dan membawanya keluar rumah. Barangkali yang saya sangat tega, sedemikian halnya Anda-anda ini, adalah soal membunuh nyamuk. Untuk urusan yang satu ini, hampir-hampir tidak ada kata ampun. Barangkali kita hanya tega dengan hal-hal yang menyakiti kita. Apa ya begitu..?? entahlah.
Tetapi untuk binatang-binatang yang disunnahkan untuk dibunuh, seperti ular yang masuk dalam rumah, maka beban untuk tega bisa sedikit terkurangi. Namun jika masih tidak tega juga, biasanya saya panggil Si Pus untuk membunuh dan memakannya. Lumayan, selain bisa melakukan sunnah, juga sekalian memberi makan si pus he..he…
Agaknya rasa tak tega tersebut masih bercokol kuat sampai suatu ketika kami sekeluarga berkunjung ke rumah Paman saya di daerah Pamekasan, Madura. Paman saya yang satu ini orangnya lumayan taat beragama.
Ketika kami sekeluarga disana, suatu waktu beliau bercerita. Bahwa dahulu, ketika ia masih lumayan muda, masih bujang gitu maksudnya, paman saya satu ini pernah seolah-olah bisa meraba hati orang lain. Agaknya tak hanya orang, namun bahkan terkadang hal-hal yang lain. Salah satunya ya mungkin ayam itu………. Beliau menyebutkan bahwa ketika seekor ayam bagaimana pun juga ia adalah punya nyawa. Meskipun nantinya ia tiada akan dimintai pertanggungjawaban akan segala sesuatu apa yang dimakan dan dilakukannya, namun setidaknya seekor ayam tersebut bisa senang dan susah juga. Katanya sih begitu…..
Paman saya berkata, pada dasarnya, seluruh makhluk didunia kan diciptakan setidaknya untuk sebuah tujuan. Istilah kerennya mungkin segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan. Ya, seperti halnya, kita manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah (adz Dzaariat 56). Makhluk-makhluk lain pun diciptakan Allah untuk hal-hal dan tujuan tertentu. Dan sebuah hidup baru bisa dikatakan sukses dengan bahagia apabila tujuan tersebut terpenuhi. Bukannya begitu pren..?? Lalu bagaimana dan seperti apa akhir misi hidup seekor ayam??? Eh ya, ternyata so simple. Beliau mengatakan, bahwa ketika di sembelih, seekor ayam itu punya 2 kemungkinan. Dia bisa berbahagia atau bersedih. bahkan andaikata ia bisa tersenyum dan menangis, tentulah ia akan tersenyum atau menangis tersedu. Ayam tersebut ternyata akan berbahagia, apabila ayam tersebut disembelih dengan menyebut basmalah terlebih dahulu. Ayam tersebut merasa bahwa tugasnya di dunia telah sukses, bahwa ia mati untuk tujuan memenuhi hajat hamba yang dicintai Allah. Ia mati dalam keadaan disebut nama Allah. Bahkan lanjut paman saya ini, ayat tersebut akan lebih berbahagia lagi apabila ia dimakan atau dipergunakan oleh hambanya yang shalih dan shalihah, dan untuk tujuan kebaikan syukur-syukur kalau Fiisabilillah. Masya Allah… ck..ck…ck.. ya mungkin seperti Anda-anda ini lah… Sungguh akhir yang bahagia, barangkali kalau manusia bisa diibaratkan seperti mati dalam keadaan husnul khotimah, syukur kalau mati syahid. Hanya saja begitulah akhir hidup seekor ayam, ia tidak akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat seperti kita layaknya manusia, namun setidaknya ijinkanlah agar akhir hidupnya, tajamnya pisau yang digunakan disertai ucapan basmalah, mampu membuatnya “tersenyum” bahagia…
Dan sebaliknya, seekor ayam tersebut akan bersedih, sangat bersedih, jika di akhir hidupnya, ia disembelih atau bahkan dibunuh dengan sengaja (semisal dikepruk kepalanya) tanpa menyebut asma Allah sama sekali. Ia bahkan lebih sedih lagi, jika nantinya ternyata dirinya yang sudah mati dipergunakan untuk hal-hal maksiat, bahkan seperti digunakan untuk sesajen yang jelas-jelas menyekutukan Allah. Sungguh akhir yang sangat tidak menyenangkan. Seolah-olah tidak ada rasa kebanggaan pun dalam dirinya. sekiranya ada kumpul-kumpul ayam di akhirat, tentulah dia menunduk dengan wajah malu dan sedih dihadapan teman-temannya sesama ayam. Bahkan mungkin jauh lebih sedih dibandingkan ayam-ayam yang menjalani “pemusnahan massal” akibat virus Flu burung belakangan ini. Bagaimana juga kan, matinya ayam-ayam sakit tersebut lebih terhormat dan bermanfaat bagi manusia buat mencegah penyakit Flu burung yangsangat berbahaya. Daripada cuman dia yang cuman buat sesajen. Ah untung saja memang tak ada yang namanya kumpul-kumpul ayam di akhirat seperti itu. Namanya juga ‘sekiranya’ …..
Entah benar atau tidak yang jelas penjelasan dari paman saya ini membuat saya merenung. Ya setiap dari kita tentulah diciptakan untuk sebuah tujuan dan alasan. Jika ayam tersebut berbahagia dengan disebutnya nama Allah di akhir hidupnya, selayaknya kita berharap agar kita pun bisa turut mengucap kalimat Laaillahhaillallah, Tiada Tuhan selain Allah, di akhir-akhir hidup kita. Entahlah semua ini, yang jelas setidaknya ia mampu memberi sedikit rasa tenang bagi diri saya ketika melihat seekor ayam, kambing atau sapi atau pun binatang yang lain sedang disembelih untuk yah keperluan kami-kami juga, tentu dengan mengucap basmalah dong….!!! Wallahu ‘alam