Ditulis pada 10 Juni 2006, telah disunting agar sesuai konteks kekinian.
Kalau ada Pengamen, berapa yang biasanya Anda beri..???? seratus..?? dua ratus…??? Lima ratus..?? Atau berapa..???
Ada banyak pengamen yang pernah saya temui, atau lebih tepatnya, saya temukan. Banyak hal, mulai dari yang berkeliaran antar-antar rumah, dari yang sekedar tepuk tangan, ecek-ecek, pakai gitar, harmonika, atau bergroup dipadu antara gitar, ecek-ecek, dan sesekali dengan gallon aqua kosong. Ada pula yang memakai tape deck, dan sesekali dipadu dengan aksi jogetan, atau terkadang yang lebih parah lagi, dengan berdandan ala banci, yang terakhir ini naudzubillah deh…
Dari sekian itu, tentulah terlepas dari alat musik yang digunakan, ataupun cara yang digunakan, banyak pengamen yang memiliki karakter yang berbeda pula. Salah satunya adalah yang akan saya ceritakan kali ini.
Keluarga kami memang tidak tahu namanya, namun setidaknya ada banyak hal yang saya amati dari pengamen satu ini. Kemeja lengan panjang, dipadu dengan sebuah topi yang bertengger dikepalanya menjadi semacam seragam baginya. Kulitnya yang coklat gelap dan wajahnya yang khas dengan gigi agak menonjol ke depan menjadi ciri khas yang mudah dikenali dari orang ini.Celana jeans nya dan sebuah sepatu kulit, membuat orang ini lebih mudah disebut sebagai seorang mandor daripada seorang pengamen. Barangkali hanya sebuah gitar tua ditangannya yang menunjukkan bahwa orang ini adalah seorang musisi jalanan.
Tapi bukan penampilannya yang menarik perhatian kami sekeluarga. Namun kebiasaan dari pengamen satu ini. Pengamen ini hampir bisa dipastikan selalu mengunjungi rumah kami setiap pekannya. Setidaknya di hari minggu pagi, setelah kami sekeluarga biasa pulang dari pengajian. Ada hal unik yang menurut saya membedakannya dengan pengamen sejenis yang kadang juga rutin ke rumah kami di akhir pekan. Adalah jika pengamen lain langsung ngeloyor pergi setelah kami beri uang, maka pengamen satu ini tidak. Bukan, bukan masalah ‘bonus’ ucapan terima kasih darinya, karena saya rasa pengamen lain juga banyak yang melakukan hal itu. Namun bukan itu, ada hal unik jika kami memberi pengamen ini uang lebih, 1000 misalnya (jumlah yang cukup baik untuk seorang pengamen saat itu), Pengamen ini masih terus melanjutkan lagunya hingga selesai. Serius..!!! Sampai selesai..!!! bahkan terkadang kami sekeluarga jadi khawatir tetangga kami berpikir yang bukan-bukan, “Kok ngamennya lama banget..?? apa nggak dikasih uang ya..??”, padahal lho sudah kami kasih uang. Tapi yah mau bagaimana lagi, memang begitu itu… musisi jalanan ini tetap melanjutkan lagunya…
Jadilah ia menjadi semacam pengamen langganan bagi kami sekeluarga. Maka setiap pekannya, hampir bisa dipastikan selalu kami sisihkan beberapa untuk pengamen itu. Karena tahu kebiasaannya, maka tak jarang kami langsung memberinya uang di awal-awal, melepaskan sebuah senyum setelah itu ngeloyor masuk. Dan gitar pengamen itu tetap melantunkan denting-denting melodi lagu-lagu khas zaman perjuangan. Ketika ia sudah selesai, tak lupa ia tetap mengucapkan terima kasih .Padahal kami sekeluarga sudah tidak kelihatan batang hidungnya, sibuk di dalam rumah, sebuah hal yang sungguh unik bagi kami.
Melihat peristiwa ini, terbayang di benakku, perkataan ayah ketika aku masih kecil dulu, “Memangnya pengamen hanya berhak dikasih ratusan doang..??”, aku hanya bisa diam dan mengangguk membenarkan, Ayahku melanjutkan, “kalau kamu dikasih seratusan, sama seribuan, lebih senang mana..??, ribuan kan…??? nah begitulah kamu kalau harus memberi….” begitulah ucapan ayah yang masih terus berada di benakku hingga sekarang.
Pernah juga, aku mencoba hal ini, dalam sebuah perjalanan pulang ke Ponorogo, bus sempat terhenti di terminal madiun. Seorang bocah kecil berkaus oblong naik, tak lama terdengar ia mengamen lepas sekenanya dengan suara khas bocah kecil. Saat itu ia hanya menggunakan ecek-ecek dari tutup botol. Teringat perkataan Ayah, segera kuambil uang dari sakuku, dan kali ini, selembar limaribuan kuletakkan ditangannya (sebuah nominal yang terbilang besar untuk pengamen jalanan di masa itu). Namun tanpa diduga, bocah itu berhenti sebentar lantas…. “Makasih mas..!!” ucap bocah kecil itu dengan keras…. Hal itu kontan membuat seluruh isi bus menoleh ke arah kami, tak terkecuali kakakku dan ibuku. Aku jadi tidak enak, tapi tak urung aku hanya tersenyum juga.
Ya, memberi lebih, meski hanya seulas senyum atau ucapan terima kasih, adalah sebuah budaya yang jarang kita temukan dewasa ini. Dan pengamen tersebut sebenarnya secara tidak langsung telah memberikan pelajaran berharga bagi kami, bahwa ketika ada orang yang berbuat baik kepada kita, maka terima kasih mungkin tiadalah cukup, namun berikanlah suatu hal yang terbaik bagi orang tadi. Ya, memberi lebih adalah bagian sebuah profesionalitas, dan pengamen tersebut menunjukkan profesionalismenya kepada kami.