“Lebaran tahun ini enggak kayak tahun-tahun sebelumnya, Mas.”
Ucap Pak Sopir travel ke saya kemarin sore.
Saya memang heran, travel yang kami naiki kosong melompong. Bangku belakang dilipat olehnya untuk memuat barang kami. Praktis travel ini seperti mobil pribadi yang kami sewa. Padahal, harusnya ini puncak-puncaknya arus mudik.
Travel langganan saya yang lainnya, kulihat masih juga terus-menerus promo, “Masih ada Seat.” “Hari Lebaran tetap Jalan.” Tulisnya di status-statusnya. Bahkan sampai juga japri ke saya.
Padahal biasanya, travel-travel itu H-7 sudah penuh. Sampai biasanya menambah armada. Sampai biasanya menolak-nolak penumpang. Tahun lalu saya di travel lain sampai “dijejal-jejalin” semobil, lengkap dengan bawaannya, lengkap dengan bau-baunya, lengkap pula dengan kemacetan jalanannya.
Tapi kemarin alih-alih macet, sepanjang jalanan malah tampak lengang.
Mungkin karena hujan yang mengguyur kami selama enam jam perjalanan.
Semoga sepinya jalanan memang karena hujan.
Ada juga teman yang cerita kalau tahun ini dia tidak mudik. Padahal secara karier jauh di atas saya yang cuma staf biasa. Saya tak berani tanya alasannya, mungkin karena tahun baru kemarin sudah mudik cukup lama. Mungkin juga hal lainnya.
Itu yang mudik.
Ibu cerita tentang penjual takjil di kampung yang pada mengeluh sepinya pembeli. Saya juga mengamini dari sepinya pasar takjil di daerah saya tinggal. Sampai-sampai temannya ibu promosi via japri sebelum menggelar lapaknya di pasar takjil.
Kemarin saat di perjalanan mudik, saya sampai heran melihat sebuah gerai pakaian ternama di kota besar, sampai rela jemput bola bikin lapak dadakan di pelosok kecamatan. Menyewa ruko dan jualan. Untung yang ini—tampaknya—ramai. Setidaknya kata-kata “Bazaaar” jadi penggaet orang-orang desa berani datang.
Itu yang jualan.
Awal Ramadan, seorang sahabat cerita, tahun ini dia terpaksa harus melakukan layoff terhadap beberapa karyawannya. Ekonomi makin sulit, itu garis besarnya.
Beberapa teman lain juga cerita, mereka habis kena layoff di bulan Maret ini. Bukan karena performanya, tapi karena performa perusahaannya. Eh, bukan layoff, tapi bahasanya "tidak diperpanjang kontraknya".
Itu yang seputar dunia kerja.
TAPI TAK APA-APA, KOK.
Toh Lebaran tak harus mudik, kan?
Tak harus baju, sandal, sepatu, dan gadget baru.
Tak harus bagi-bagi THR buat para keponakan.
Tak harus belanja kue lebaran mahal.
Tak harus kirim-kirim hampers.
Tak harus flexing karier dan jabatan, kan?
Apalagi yang biasa flexing pamer ragam perhiasan di acara keluarga besar, BUAT APA!
Sekadar kamu kuat puasa penuh di bulan Ramadan ini saja, kamu sudah luar biasa.
Karena bukankah itu memang esensi hari raya kita?
Eh, iya, kan?
Bersyukur masih ada yang perusahaannya masih normal, jualannya masih lancar, pabriknya masih buka, ekonominya berjalan, masih dapat THR, masih diperpanjang pula kontrak PKWT-nya.
Semoga kamu juga salah satunya.
Ponorogo, 29 Maret 2025
#100harinulis #100harimenulis