Saya jarang kerja di Windows. Baru kerja di Windows kalau pas pakai laptop karena pas lagi mobile di luar rumah. Kalau di rumah, cukup kerja di PC dua monitor saya yang pakai Linux. Itulah kenapa tools "kerja" saya di laptop sering tak selengkap di PC Linux rumah. Apalagi kalau pas keluar bawanya laptop pribadi, bukan laptop kantor. Tambah ngenes lagi tools-nya.
Termasuk hari ini, karena menunggu bocil tes masuk sekolah. Saya bawa laptop pribadi saja, yang baterainya lebih tahan lama. Niatnya awal mau ngoprek kodingan Laravel, tapi kok ternyata di laptop yang sering dipakai anak saya ini, PHP-nya belum ada. Ya sudahlah, install Laragon saja, pikirku. Biar all-in.
Lah, ndilalah, habis install, ternyata baru tahu Laragon sekarang mesti bayar lisensi. Padahal sebagaimana kebanyakan tools bundling PHP lain, Laragon dari dulu dikenal gratis.
Tapi saya ingat, beberapa bulan silam, ada announcement bahwa Laragon akan di-discontinue karena developer-nya "enggak ada resource" lagi untuk me-maintain. Sehingga kali ini, perubahan license Laragon menjadi hal yang amat sangat saya maklumi. Tapi untungnya, meski begitu, koding Laragon masih tersedia di GitHub. Hanya saja kalau Anda install versi "jadinya", akan tetap butuh lisensi.
Tentu Anda punya pengalaman sejenis tentang aplikasi yang awalnya gratis, lalu tiba-tiba berbayar. Biasanya mereka ini kategori Freeware, bukan Open Source.
Kalau perangkat lunak model SaaS malah kadang rada menyebalkan: Awal-awal untuk mendongkrak user acquisition, banyak fitur yang dibuka gratis. Semata agar tambah banyak user yang pakai.
Contoh pada pengalaman Mamiend Studio: aplikasi editor video CapCut. Awal-awal pakai, masih banyak add-on seperti plugin, effect, dan filter keren yang gratis. Tapi perlahan, ketika mulai kelihatan pola add-on apa yang banyak dipakai user, maka digeserlah add-on laris tersebut ke versi pro-nya yang berbayar. Maklum sih, namanya usaha, mereka juga butuh uang. Toh menggaji programmer kan memang enggak murah, hehe....
Tentu ada pula di antara kalian yang ketika kena ginian lantas mencari versi "bajakannya" di situs-situs hitam yang (sering) diselipi kodingan hacker. Saya anti sama yang begini-beginian, maka "tidak install Laragon" adalah hal yang bisa saya lakukan.
Terus jadinya bagaimana?
Untung di laptop pribadi saya install dua OS, ada Linux-nya juga dan ada PHP-nya. Ya sudah, ke Linux lagi akhirnya.
Atau kalau enggak, ya sudah, menulis saja. Jadilah ini tulisan yang Anda baca sekarang.
Malang, 12 April 2025
#100harinulis #100harimenulis