22. Enaknya Jadi Programmer? (Sebuah Realita)

Orang pikir jadi programmer itu enak; katanya bisa kerja *remote*, buka laptop sambil ngopi di *kafe*. Padahal, ngopi di *kafe* itu mahal. Sekali dudu...

Orang pikir jadi programmer itu enak; katanya bisa kerja remote, buka laptop sambil ngopi di kafe. Padahal, ngopi di kafe itu mahal. Sekali duduk minim habis Rp30 ribuan, dan enggak enak kalau nongkrong lebih dari empat jam tapi enggak pesan lagi. Tuh kan, habis Rp60 ribu per hari, kalikan sebulan, berapa itu! Mending buat modal nikah atau nabung beli rumah.

Orang pikir programmer itu gajinya besar, padahal dapat dua kali UMK saja sudah alhamdulillah! Serius! Iya sih, ada sebagian dari kami yang gajinya dobel dijit, tapi enggak banyak, kok. Biasanya "spesies" ini ada di startup ternama, tapi ya begitu, mereka juga dag-dig-dug rawan kena layoff tiba-tiba.

Orang pikir programmer itu super pintar. Bisa nge-hack dan membobol sana-sini. Padahal, untuk mengatur gambar di web agar bisa pas di tengah saja, kami sering harus googling dulu. Eh, tanya ChatGPT, ding, sekarang.

Kenyataannya, kini selembar ijazah sarjana IT tak lagi terlalu berarti. Para recruiter tampak tak terkesan dengan IPK dan judul skripsi. Tiba-tiba untuk menjadi programmer, kamu butuh beragam kursus tambahan agar stack-nya sesuai dengan dunia kerja. Lah, empat tahun kuliah terus untuk apa? Belum lagi ada hal-hal di dunia kerja yang langka diajarkan dosen: soal Git, log, arsitektur sistem, backend, atau bahkan sekadar jadi QA yang baik.

Orang pikir programmer itu pintar segala tools. Padahal, ada terlalu banyak variasi teknologi. Misal ada lima bahasa backend, empat jenis database, dan tiga framework frontend, maka ada 60 kombinasi yang mungkin untuk dipelajari. Kamu pintar di salah satu dari 60 itu saja sudah keren, sementara loker yang ada bisa jadi tidak match dengan skill-mu.

Apa yang dipelajari di kuliah lima tahun silam saja saat ini bisa jadi sudah basi. Framework tiap tahun terus update, stack baru terus bermunculan. Pilihanmu adalah belajar terus-terusan (sambil kerja) atau bakal tergantikan oleh mereka : alumni bootcamp seharga puluhan juta itu.

Sambil naik motor kadang kepikiran bug yang belum terselesaikan. Pas cuti dan liburan pun, kami berinisiatif membawa laptop dengan penuh kesadaran, khawatir tiba-tiba ada rekan yang telepon butuh bantuan.

Hidup itu memang sawang sinawang, kawan.
Hanya karena kalian tidak menikmati pusingnya kami, tidak berarti jadi programmer itu lebih enak dari kalian.

Nikmati dan syukuri, jadikan itu kata koentji.