21. Disrupsi Bisik-Bisik Tak Berisik

Tak semua disrupsi datang tiba-tiba. Sebagian senyap, lirih, tak terasa. Lalu... *Dhuar\!* Longsor datang, padahal sebelumnya aman, nyaman, tenteram—b...

Tak semua disrupsi datang tiba-tiba. Sebagian senyap, lirih, tak terasa. Lalu... Dhuar! Longsor datang, padahal sebelumnya aman, nyaman, tenteram—bikin mager.

Pemanasan global contohnya. Kenaikan suhu sepersekian derajat amat senyap bagi "rakyat jelata". Kita mendengar sebagian kecilnya: iklim tak menentu dan cuaca ekstrem yang makin sering. Sedikit dari kita yang mengaitkannya dengan pemanasan global.

Sebagian besar karena tak tahu.
Sebagian lagi tak mau tahu.

Tapi untung masih ada yang mau mendengar. Beruntunglah mereka! Contohnya desa Blatten di Swiss. Iya, Swiss yang dikenal dengan pemandangannya yang—masyaallah—super indah itu. Desa Blatten terletak di lembah gunung, lengkap dengan gletsernya—pemandangan khas pedesaan Swiss yang wow!

Disrupsi senyap sampai juga di desa ini. Keindahan gunung bersalju di atas desa ternyata menyimpan ancaman. Pemanasan global yang super seloooow, naik peeeerlahaaaan itu, akhirnya mencapai titik kritis tahun ini. Gletser di atas Blatten melemah dan rapuh. Lalu, Bum! Kemarin, gletser itu longsor, membawa serta timbunan material. Menimpa desa indah itu.

Syukurlah, warga dan pemerintahnya sigap. Punya ilmu mitigasi bencana—yang tak sekadar wacana. Pemantauan gletser ditambah pengetahuan terhadap potensi awal musim panas kali ini membuat mereka mengetuk palu. Desa terlalu berbahaya, "Tinggalkan Blatten!" Sepuluh hari sebelum bencana, seluruh penduduk—sekitar 300 orang beserta hewan ternak—dievakuasi ke tempat aman.

Ketika bencana benaran datang kemarin, penduduk desa telah aman seluruhnya. Hanya satu orang yang dinyatakan masih hilang.

Tapi longsor bukan disrupsi utamanya; ia hanya efek. Disrupsi sejatinya adalah pemanasan global—perlahan, senyap, tapi mematikan. Butuh kepekaan seperti warga dan pemerintah Blatten untuk menyadari bahwa sesuatu yang tak berisik seperti pemanasan global bisa berujung bencana.


Prinsip serupa berlaku di dunia kerja.
Dua tahun silam, seorang kolega bercerita, kerja di BUMN gajinya tak sebesar startup atau multinational company, tapi setidaknya di BUMN—katanya—lebih stabil, aman dari gelombang layoff. Apalagi BUMN yang dikenal sehat. Waktu itu saya mengamini.

Bukankah memang begitu kaidahnya?
Di perusahaan sehat mana pun, layoff mestinya jarang terjadi.
Iya, kan?

Tapi barusan Microsoft, Amazon, dan CrowdStrike, raksasa sehat berprofit jumbo, baru saja melakukan layoff massal. Microsoft sampai 3% dari total karyawannya. Bahkan BUMN yang disebut kolega saya itu, Lebaran kemarin juga melakukan "silent layoff" terhadap karyawan di proyek-proyek yang dianggap kurang profit.

Disrupsi tak selalu datang dengan teriakan. Ia bisa berupa bisikan lirih yang merayap lewat tren ekonomi, perubahan pasar, atau kebijakan diam-diam. Gletser yang longsor dan gelombang layoff tak jarang merupakan buah dari disrupsi berbisik yang sudah sampai di titik takdir-Nya.

Jadi, sudahkah kita mulai belajar mendengar?

Malang, 29 Mei 2025
#100harinulis #100harimenulis

Sesi 4