2. Hidup Yang "Ora Neko Neko"

Rasanya baru di usia belakangan, standar bahagia saya mulai perlahan bergeser. Sederhana saja: seperti saya melihat almarhum Ayah saya dulu: * Berang...

Rasanya baru di usia belakangan, standar bahagia saya mulai perlahan bergeser. Sederhana saja: seperti saya melihat almarhum Ayah saya dulu:

  • Berangkat kerja pagi dan bisa pulang hari itu juga.
  • Kantornya hanya di kotanya, kalaupun pas pindah cabang, naik motor tak sampai sejam sudah sampai.
  • Saat akhir pekan bersama keluarga, meski tak ke mana-mana.
  • Bisa cukup tidur pada malam harinya.
  • Pas Lebaran, bisa mudik bertemu keluarga besar lainnya.

Pokoknya slow living ala kota kecil lah.

Seumur hidupnya Ayah tak punya mobil. Rumah yang kami tempati dulu pun baru lunas KPR BTN di usia Ayah yang di angka 40-an.

Pensiun dengan gaji tak terlalu besar, tapi setidaknya cukup untuk makan hingga akhir bulan. Enggak sampai utang, malah kadang bisa bantu saudara yang kesusahan.

Ora neko-neko—kata orang Jawa. Tidak macam-macam. Tidak 'kemaruk' gaji dobel dijit lah, pengin posisi mentereng lah, bisa liburan ke luar negeri lah, punya PS 5 lah, dan lain-lain.

Setidaknya saya melihat Ayah, begitu tenang di akhir masa tuanya. Pensiun utuh tanpa kepotong ini itu, kedua anaknya sudah 'mungkur', sesekali menengok cucu, sudah... Apalagi yang mau dicari?

Melihat hype status-status 'pencapaian' yang beredar di linimasa LinkedIn, kadang membuat saya merasa minder. Atau bahkan iri dengan kata-kata "dobel dijit" yang sesekali melintas.

Ah, slip gaji saya terlalu malu untuk menanggapi.

Tapi memang wajar, di LinkedIn, sosmed pengembangan karier. Hal kayak gitu jadi motivasi, harusnya....

Tapi kadang juga—terselip juga—perasaan stuck, "Kok hidupku gini-gini aja, ya?"

Tapi sesekali kita pun perlu berhenti, bahwa di balik hiruk pikuk ini, ada yang terlalu wajib kita syukuri. Bisa kerja, punya paket data, ada keluarga, bisa sarapan tadi pagi, ada bensin buat ke kantor hari ini...

Atau sekadar tinggal dalam suasana aman, tak tercabik perang seperti di Gaza, Suriah, Ukraina, ataupun Sudan....

Ketika yang kecil saja lupa kita syukuri, gitu kok 'ngarep' Tuhanmu memberimu yang lebih besar?

Mana doanya sambil bilang, "Trial 5 juta dulu, kalau lolos baru 5 miliar."

"Embuh, karepmu...!"

Malang, 17 Januari 2024