Saya suka mengajar. Waktu kuliah saya jadi asisten praktikum, latihan mengajar.
Maka ketika lulus kuliah S1, saya pun ingin sekali mengajar.
Meski tahu bahwa gaji orang mengajar...
Yah, tahu sendiri lah—musti sabar....
Tapi saya tetap suka mengajar. Itu pekerjaan yang mulia, insyaallah barokah jika ikhlas dan benar menjalaninya.
Tapi tidak setiap hari ada lowongan mengajar.
Pun di zaman saya lulus itu, tidak semua sekolah me-posting loker mengajar dengan mudah.
Belum lagi jalur "orang dalam" di banyak sekolah.
Maka waktu itu, habis lulus, saya bikin lamaran.
Saya print banyaaaaak....
Beli amplop cokelat banyaaaaak....
Lalu saya kirim ke hampir semua institusi pendidikan di kota saya yang kira-kira ada jurusan IT/Komputernya, meski enggak tahu ada lowongan atau tidak.
Iya, nge-print dan mengirim habis banyak.
Sederhana, karena saya ingin mengajar...
Saya ingat dari sekian banyak itu, yang membalas hanya ada dua.
Yang satu menolak dengan halus.
Yang satunya menerima dengan tangan terbuka (dan gaji semampunya).
Maka dimulailah satu episode—enam tahun—penuh makna di hidup saya.
Hari ini saya pun masih suka mengajar.
Tapi saya juga suka gaji kerja kantoran.
Tapi dua hal yang disuka, meski berbeda, tidak harus dipertentangkan, bukan?
Seperti halnya kopi dan gorengan...
Malang, 20 Mei 2025
#100harimenulis #100harinulis