15. Micin, Miras, Dan Integritas

Saya punya teman, seorang *DevOps engineer*. Lulusan perguruan tinggi ternama, mantan karyawan *startup* besar yang sekarang masih eksis. Dia *resign*...

Saya punya teman, seorang DevOps engineer. Lulusan perguruan tinggi ternama, mantan karyawan startup besar yang sekarang masih eksis. Dia resign pasca-Covid karena dari perusahaan tak bisa lagi kerja remote. Padahal, ia ingin dekat dengan keluarganya.

Lalu ia pindah kerja ke sebuah startup pengiriman/ekspedisi. Perusahaan ini juga cukup terkenal, meski tak sebesar tempat sebelumnya. Setidaknya kali ini dia bisa kerja remote dari kota saya: Malang. Bisa dekat dan kumpul dengan keluarganya: anak, istri, dan orang tuanya.

Tapi…
Tak lama kemudian, dia cerita kalau dia resign dari perusahaan ekspedisi tersebut.
Saat saya tanya kenapa, saya justru kagum dengan jawabannya.

Alasannya sederhana tapi berat:
Perusahaan pengiriman tempatnya bekerja menjalin kerja sama dengan produsen minuman keras.
Teman saya tak ingin terlibat dalam bisnis yang—meski legal secara hukum—bertentangan dengan prinsip keimanannya.

Sebagai "engineer" biasa, anak baru pula, ia tahu dirinya tak bisa mengubah keputusan bisnis perusahaan.

Klien rutin dari produsen miras itu tentu duitnya sangat "gurih", micin overload!

Dia paham, ada prinsip yang ia punya, dan ia ingin tetap memegangnya.
Ia tak bisa mengubah. Tak punya pengaruh atau otoritas.
Maka, resign adalah opsi paling logis.

Kabar terakhir, ia bekerja di sebuah startup parenting.
Tetap humble. Tetap “tak tampak” seperti seorang DevOps senior, sampai Anda mengajaknya mengobrol.

Menjadi profesional tak berarti kita harus mengabaikan prinsip-prinsip kita—apa pun itu, bahkan andaikata se-“salah” apa pun itu. Orang akan respect pada mereka yang memiliki prinsip, meski bisa jadi orang juga akan membencinya. Mereka bisa saja tetap respect… sambil tetap tak menyukainya.

Memiliki prinsip itu mendefinisikan siapa kita.
Dan jika prinsip itu ternyata baik dan sesuai nilai moral, maka kita menyebutnya sebagai: integritas.

Toh kita suka pribadi berintegritas, setidaknya jika disematkan ke polisi dan politisi.
Dan harusnya, sifat itu juga ada pada kita—para profesional.

Integritas, sering kali, justru lahir dari hal-hal sederhana seperti ini:
Prinsip-prinsip kecil yang kita pegang teguh. Semampunya. Sekuat-kuatnya.

Tentu akan ada suara-suara miring:
“Sok suci.”
“Munafik.”
“Hipokrit.”
Atau sejenisnya.
Sebagian berbisik, tak sedikit yang berisik.

Tak apa. Wajar saja.
Karena dalam hidup—dan setelah kehidupan—akan selalu ada hal yang lebih penting dari sekadar pekerjaan dan gaji bulanan.
Kamu yang menentukannya, kamu juga yang menjalaninya.

Karena pada akhirnya, yang menentukan siapa kita bukan posisi kerja, bukan gaji, bukan startup tempat kita berdiri—
tapi prinsip-prinsip kecil yang diam-diam kita bela sampai akhir.

Dunia tak selalu butuh orang pintar.
Tapi dunia selalu butuh orang yang bisa dipercaya.
Dan itu dimulai dari integritas atas prinsip-prinsip paling sederhana.

Malang, 15 Juni 2025
#100harinulis #100harimenulis #diaryAnakIT