Beberapa bulan lalu, di kereta Malang–Jakarta, saya duduk di samping anak muda, baru dua tahun lulus kuliah. Ia cerita bahwa tahun depan insyaallah akan diangkat menjadi karyawan tetap (Kartap).
Ia kerja di pabrik rokok terkemuka di Surabaya, memulai kariernya dari bawah sebagai motorist sales. Tahun lalu ia naik menjadi supervisor dan, jika lulus assessment, tahun ini akan jadi Kartap.
Lain halnya paman saya, seorang security di BUMN di Jawa Timur. Seperti banyak security lain, ia tenaga outsourcing, alias PKWT yang diperpanjang tiap tahun oleh perusahaan penyedia.
Dulu ia bekerja langsung di perusahaan, lalu dialihkan ke PT outsourcing. Sudah hampir 20 tahun, statusnya tetap PKWT. Kini, dengan usia pensiun kurang dari 10 tahun dan dua anak—salah satunya kuliah—ia masih menunggu perpanjangan kontrak tiap tahun.
"Kerjaan aman, Om?" tanya saya dua bulan lalu.
"Insyaallah aman sampai akhir tahun, Gar," jawabnya.
Paman saya menambahkan, "Tapi tahun ini ada kebijakan baru… tinggi badan."
Perusahaannya kini mensyaratkan tinggi minimal 165 cm bagi security. Aturan ini sudah berlaku bagi rekrutan baru, tetapi tidak jelas bagi tenaga lama. Saya kira paman saya aman, tetapi ternyata tinggi badannya kurang sedikit dari ambang batas untuk perpanjangan kontrak.
"Aman sampai akhir tahun" adalah istilahnya untuk kontrak PKWT yang selalu diperpanjang tiap awal dan akhir tahun.
Lima tahun terakhir, saya makin sadar pentingnya job security, terutama ketika usia sudah kepala tiga (baca: senior level).
Terlebih jika penghasilan utama masih bergantung pada gaji.
Terlebih di situasi ekonomi yang tak menentu.
Terlebih ketika "asal tidak kena layoff" saja sudah wajib disyukuri.
Kini, status Kartap seolah jadi shining star—jika yang dicari adalah kepastian kerja.
Tapi lowongan Kartap semakin langka. Banyak perusahaan lebih sering merekrut karyawan untuk proyek 1–2 tahun, sekadar "tes ombak" melihat profitabilitas produk mereka.
Mungkin ada yang berpendapat, "Yang penting tetap kerja!" Saya setuju, tapi tulisan ini bukan tentang itu.
Saya punya teman yang 6 tahun masih PKWT. Itu belum seberapa—tetangga saya 8 tahun masih PKWT. Bahkan, dua bulan lalu saya kaget tahu seorang teman lain yang 11 tahun tetap PKWT.
Pekan lalu, saya chat seorang teman lama di Jakarta. Musim layoff melanda kantornya. Dua teman kami yang di Bandung dipastikan menyelesaikan hari terakhir mereka di perusahaan Maret ini.
Alhamdulillah, teman saya ini aman. Ia sudah 7 tahun PKWT sebagai senior front-end engineer dengan keahlian mumpuni. Proyeknya masih profit, sehingga tak terkena efisiensi.
Basa-basi, saya bertanya, "Sudah naik jadi Kartap, Mas?"
Jawabnya sederhana, "Alhamdulillah, sudah tetap, Mas..."
..
..
"Sudah diTETAPkan rezekinya melewati PKWT," lanjutnya.
Masyaallah… Tabarakallah.
Malang, 17 Maret 2025
Alhamdulillah masih kerja.
#100HariMenulis #100HariNulis