Tiga tahun hidup saya 'habis' begitu saja. Baru sadar saat uang habis dan side hustle hancur total. Ini bukan cerita sukses. Ini cerita saya terlena, jatuh, dan bangkit dengan susah payah.
Tahun 2018, saya resign dari kerja sebagai pengajar kontrak di kampus kecil di Malang. Saat itu saya punya side hustle yang sangat cukup: bisa makan, bayar tagihan, menyekolahkan anak, dan merenovasi rumah.
Awalnya semua baik-baik saja.
Tapi karena tidak ada rutinitas, saya terlena.
Saya masih punya toko online, tidak terlalu ramai, hanya 2–3 jam per hari mengurus toko. Kebanyakan pembeli dari marketplace, bukan karena saya aktif promosi.
Tanpa sadar, saya mulai...
Lumutan.
Jamuran.
Melapuk.
Terbuai dengan “kenyamanan” side hustle satu-satunya yang saya punya.
Padahal, saya sadar betul:
Kalau penghasilan ini goyah, maka ekonomi keluarga pun ikut goyah—bahkan bisa jatuh.
Saya sempat coba memperluas side hustle itu.
Tapi... semua upaya gagal.
Kenapa?
- Karena saya hanya meniru cara lama.
- Karena saya tidak disiplin.
- Karena saya takut berekspansi.
- Karena saya tidak punya sense of urgency, tidak serius, merasa tidak terlalu butuh.
- Saya juga terlalu banyak nge-game, menonton, dan melakukan hal-hal nonproduktif lainnya.
Terlena itu memang semengerikan itu.
Lalu kompetitor datang.
Side hustle saya mulai tergeser.
Saya tahu, tapi saya helpless.
Saya panik!
Lalu COVID datang.
Yang saya takutkan terjadi.
Side hustle saya hancur total.
That was one of the worst moments in my life.
Tabungan tinggal untuk 2–3 bulan.
Saya bilang ke istri, “Aku cari kerja kantoran lagi, ya.”
Itu awal 2021.
Tapi saya kaget.
Skill saya usang.
Tech stack yang saya kuasai sudah ketinggalan.
Pasar kerja berubah. Saya pun enggak muda lagi.
Saya baru sadar:
Selama tiga tahun, saya enggak bertumbuh. Enggak upgrade skill.
Bahkan laptop pun enggak saya upgrade, padahal ada uangnya waktu itu.
Saat itulah saya benar-benar merasakan:
"Oh... begini ya rasanya kalau kamu berhenti tumbuh."
Alhamdulillah, setelah puluhan lamaran dan beberapa interview, akhirnya ada yang menerima saya. Waktu itu rasanya... ya Allah… pengin nangis.
Rasanya kayak dapat oksigen pas sudah mau kelelep.
Di situ saya sadar:
Allah kasih saya kesempatan kedua.
Saya jatuh di tengah pandemi, bukan di awal.
Masih ada tabungan. Masih dapat kerja.
Enggak semua orang seberuntung itu.
Saya bersyukur banget.
Dan inilah pelajaran terbesarnya:
- JANGAN BERHENTI TUMBUH.
- Disiplinkan diri. Meski belum kerja, alokasikan "jam kerja"-mu.
- Selalu luangkan waktu untuk belajar, bekerja, berkembang. Sekecil apa pun itu—“3 menit Duolingo” atau 1/4 ayat hafalan—tetap lebih baik daripada nol.
- Bergabunglah dengan komunitas yang punya budaya bertumbuh.
- Jauhkan diri dari zona nyaman yang mematikan perlahan.
Malang, 17 Mei 2025
#100harinulis #diaryAnakIT