Kemarin pagi saya ke pasar, membeli puding susu Nutrijel rasa mangga. Di pasar harganya Rp10.000 per buah. Malamnya, saya mampir ke minimarket dekat rumah dan melihat produk yang sama dengan harga 34% lebih mahal: Rp13.400 per buah.
Karena paginya baru membeli, refleks saya berkata kalau di sini mahal sekali. Namun, jika saya belum tahu harga di pasar, mungkin saya akan menganggapnya sebagai harga yang wajar-wajar saja.
Produk yang sama persis ternyata bisa punya persepsi nilai yang jauh berbeda, tergantung lokasi, waktu, siapa yang menjual, siapa yang membeli, beserta pengalaman dan persepsi masing-masing individu.
Persepsi murah dan mahal ini sebenarnya mirip dengan dunia kerja.
Hari ini, para jobseeker mungkin tak ubahnya seperti Nutrijel itu di mata HRD. Demikian pula sebaliknya—job yang ditawarkan HRD juga bisa terlihat "mahal" atau "murah" di mata jobseeker, tergantung siapa yang melihat.
Kandidat meminta gaji "kemahalan" menurut HRD, tetapi bagi jobseeker, offer-nya justru terasa "terlalu murah".
Tak jarang, "mahal" dan "murah" hanyalah soal persepsi.
Gaji saya sekarang tak sampai dua digit, jauh dari bayangan beberapa orang tentang "gaji software engineer senior". Saya pun pernah terbersit, "Kok kayaknya kecil, ya?" apalagi jika dibandingkan dengan gaji teman-teman saya di beberapa perusahaan swasta ternama, startup terkenal, atau bahkan dari beberapa DM offering yang saya tolak baik-baik (karena harus relocate ke Jakarta).
Tapi saya lantas ingat... gaji saya dulu waktu mengajar bahkan tak sampai separuh UMK kota saya (waktu itu).
Saya juga ingat... pekan lalu saya cek, rata-rata gaji programmer di kota tempat saya tinggal sekarang (Malang), tak jauh-jauh dari UMK Kota Malang (sekitar Rp3,5 juta).
Bahkan saya ingat lagi... beberapa bulan lalu, teman saya yang sangat cerdas—alumni Fisika kampus negeri, hafidz Quran 30 juz, sudah berkeluarga—menjadi guru full-time di sebuah sekolah terkenal dengan gaji tak sampai separuh UMK kota saya.
Apalagi beberapa teman saya baru saja kena layoff saat lebaran kemarin, padahal punya keluarga yang harus ia nafkahi.
Lalu tiba-tiba, gaji saya terasa... besar sekali.
Mungkin bukan gaji saya yang terlalu MURAH.
Mungkin syukur saya-lah yang terlalu MAHAL.
Malang, 25 Mei 2025
#100harinulis #100harimenulis #diaryAnakIT